RSKB HALIMUN SOSIALISASI PENANGGULANGAN TB & MEMBENTUK TIM DOTS

Dwi H 31 December 2018

Tuberculosis (TB) yang lebih dikenal masyarakat sebagai penyakit TBC, sampai hari ini masih menjadi salah satu masalahan utama kesehatan yang dihadapi masyarakat dunia. Setiap tahun, penyakit menular yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium Tuberculosis ini, menyebabkan lebih dari dua juta kematian. Bahkan, saat ini diperkirakan sekitar sepertiga penduduk dunia telah terinfeksi kuman TB yang diperdiksi akan berkembang menjadi penderita TB pada masa mendatang.

Itulah pemaparan Wakil Direktur Rumah Sakit Khusus Bedah Halimun (RSKB Halimun) dr. MC. Joyce Tumbelaka, MARS pada acara “Sosialisasi Tuberculosis dan Pengesahan Tim DOTS RSKB Halimun” di ruang pertemuan lantai 4, Gedung RSKB Halimun, Jl. Halimun Raya No. 9, Setia Budi, Jakarta Selatan, Senin (31/12/2018).

Menurut dr. Joyce, selain jumlah kematian dan infeksi TB yang sangat besar di seluruh dunia, pertambahan kasus TB juga sangat signifikan dan terus meningkat tiap tahun. Pertumbuhan kasus TB di seluruh dunia mencapai lebih dari 9 juta kasus baru setiap tahun. Jika tak dikendalikan, dokter kelahiran Makassar, Sulawesi Selatan ini memprediksi dalam 20 tahun mendatang TB bisa membunuh lebih dari 35 juta orang.

Sosialisasi Program Penanggulangan TB

“Di Indonesia, beban TB juga sangat tinggi. TB di Indonesia merupakan pembunuh nomor satu di antara penyakit menular lainnya, dan nomor 3 dalam daftar 10 penyebab kematian utama setelah jantung, pembuluh darah dan penyakit pernafasan akut. Karenanya, penanggulangan TB sudah dicanangkan sejak zaman penjajahan Belanda. Ketika Indonesia merdeka pun setiap pemerintahan mencanangkan program penanggulangan TB, tapi hasilnya tak sebanding dengan biaya yang sudah dikeluarkan hingga triliunan rupiah,” jelas dr. Joyce.

Karena itu, lanjut dr. Joyce, sejak awal 1990, bekerjasama dengan World Health Organization (WHO) dan International Union Against TB and Lung Diseases  (IUATLD), Pemerintah Indonesia mengembangkan strategi penanggulangan TB dengan nama Strategi DOTS (Directly Observed Treatment Shortcourse). “Yang dimaksud dengan Strategi DOTS adalah strategi penanggulangan TB di rumah sakit melalui pengobatan jangka pendek dengan pengawasan langsung, karenanya DOTS menjadi tempat untuk konsultasi pasien TB,” ujarnya.

Selanjutnya, dr. Joyce menyampaikan, untuk menyukseskan program penanggulangan TB ini, RSKB Halimun membentuk Tim DOTS yang diketuai oleh dr. Marcella Auditta dengan anggota Yezi Novita AMK (Paramedis), Nurfitri Yani S Farm Apt (Farmasi) dan Sri Adinda Maharani (Rekam Medis). “Tim DOTS RSKB Halimun  memang harus dibentuk karena penanggulangan TB merupakan program nasional yang harus dilaksanakan di seluruh Unit Pelayanan Kesehatan, termasuk di RSKB Halimun. Selain itu, Program Penanggulangan TB dengan strategi DOTS ini juga menjadi salah satu syarat dalam pelaksanaan akreditasi rumah sakit,” tandasnya.

Memperhatikan Materi Sosialisasi 

Sementara itu, Direktur Rumah Sakit Khusus Bedah Halimun (RSKB Halimun) Dr. H. Briliantono, MS, SpOT, FICS, MD, PhD, MBA, pada kesempatan yang sama menyampaikan, selain merupakan program nasional dan menjadi syarat dalam akreditasi rumah sakit, Tim DOTS memang diperlukan oleh RSKB Halimun sebagai Rumah Sakit Khusus Bedah Ortopedi. Pasalnya, dalam proses pengobatan pasien ortopedi, khususnya pada pemberian obat untuk pasien Rheumatoid Arthritis (RA) atau peradangan sendi, terkadang menimbulkan efek samping berupa menurunnya kekebalan tubuh pasien.

“Dengan menurunnya kekebalan tubuh, bisa saja pasien terserang TB, apalagi jika berhubungan dengan penderita TB. Karenanya, sebelum menjalani tindakan dan pengobatan, setiap pasien ortopedi di RSKB Halimun selalu menjalani tahap diagnosa dengan pemeriksaan laboratorium yang lengkap dan komprehensif untuk memastikan kondisi tubuhnya. Jika secara medis kondisi tubuhnya bagus, baru dilakukan tindakan dan pengobatan,” jelas Dr. Tony.

Rep/Red: Dwi Hardianto

Fotografer: Olink KP

Sumber: OASESAHIRA (www.oase.co.id)

Berita Lainnya

OUTING RS KHUSUS BEDAH HALIMUN DI KAMPOENG BAMBOE BOGOR

09 January 2023

JAILANI & NURFATI DHIBA, KARYAWAN TELADAN PERIODE OKTOBER – NOVEMBER 2022

21 December 2022

FREE WEBINAR “MENANGANI CIDERA OLAHRAGA DENGAN PEMULIHAAN LEBIH CEPAT MENGGUNAKAN MINIMALYY INVASIVE”

14 December 2022

RS. KHUSUS BEDAH HALIMUN MEMBUTUHKAN DOKTER UMUM

13 December 2022