BUKAN SEKADAR “KESELEO”: DISLOKASI DAPAT MENGUBAH HIDUPMU DALAM SEKEJAP
Pernah dengar cerita orang jatuh pas olahraga, bahunya langsung “geser” dan tiba-tiba nggak bisa gerak? Ada juga yang habis main futsal, ada teman yang jari tangannya tiba-tiba miring aneh kayak antena radio rusak?
Nah, itu semua bukan sekadar “keseleo biasa.” Bisa jadi dislokasi sendi, yaitu kondisi yang literally dapat mengubah hidupmu dalam hitungan detik.
Apa Itu Dislokasi Sendi?
Dislokasi adalah kondisi ketika tulang keluar dari posisi normalnya di sendi. Kondisi ini menyebabkan nyeri hebat dan fungsi tubuh terganggu. Jika tidak ditangani dengan cepat, risiko kerusakan saraf dan pembuluh darah pada sendi dan sekitarnya akan meningkat.
Bayangkan sendi seperti “engsel pintu” – jika engsel geser, pintunya jadi nggak bisa dibuka atau ditutup dengan benar. Begitu juga jika engsel pada tubuh kita yaitu sendi bergeser tidak pada tempatnya, akan sakit banget, sulit digerakkan, dan kalau salah penanganan dapat mengalami cedera saraf, pembuluh darah rusak, bahkan cacat permanen.
Berbagai penelitian dari lembaga ortopedi internasional, dislokasi merupakan salah satu kasus trauma muskuloskeletal yang paling sering terjadi, terutama pada anak muda aktif yang hobi olahraga atau aktivitas outdoor.
Penyebab
Beberapa penyebab dislokasi paling umum, antara lain:
- Benturan keras saat olahraga.
- Kecelakaan lalu lintas.
- Terjatuh dengan posisi tubuh salah.
- Trauma berulang pada sendi.
- Kondisi sendi longgar bawaan atau pernah mengalami dislokasi sebelumnya.
Jadi, bukan cuma atlet yang bisa kena, kamu yang cuma mau jogging santuy pun bisa kena mental kalau salah pijak.

Gejala
Kalau kamu ngerasain hal-hal ini setelah jatuh atau benturan, langsung curiga dislokasi, ya:
- Nyeri tajam seperti ditusuk dari dalam.
- Bentuk sendi tampak aneh/bergeser.
- Bengkak, memar, dan tidak dapat digerakkan.
- Rasa kesemutan atau mati rasa (tanda saraf telah kena).
Kalau semua ini terjadi, fix banget itu bukan waktunya sok keras dan pura-pura kuat. Ini saatnya ke dokter untuk pemeriksaan serius.
Jenis-Jenis Dislokasi
Dislokasi dapat terjadi di mana saja, tapi beberapa lokasi ini adalah yang paling sering terjadi, di antaranya:
- Dislokasi Bahu (Shoulder Dislocation)
Jenis dislokasi yang paling sering terjadi, terutama pada usia muda aktif dan atlet. Terjadi ketika tulang lengan atas keluar dari soket sendi bahu. Rasanya seperti bahu “copot” dan langsung nggak bisa mengangkat tangan. Risiko kambuh lagi (rekuren) pada dislokasi ini cukup tinggi jika tidak ditangani dengan baik dan dilanjutkan dengan fisioterapi untuk terapi pemulihaan lanjutan.
- Dislokasi Siku (Elbow Dislocation)
Umumnya terjadi akibat jatuh dengan posisi tangan menumpu ke depan. Siku tampak menonjol abnormal, nyeri hebat, sulit ditekuk, dan berisiko mencederai saraf ulnaris (penyebab kesemutan jari kelingking & manis).
- Dislokasi Jari Tangan & Kaki (Finger/Toe Dislocation)
Sering terjadi saat olahraga. seperti basket, voli, futsal atau terjepit benda keras. Jari tampak bengkok aneh/miring, langsung bengkak dan tidak dapat digerakkan. Penanganan cepat penting dilakukan untuk mencegah deformitas permanen.
- Dislokasi Pinggul (Hip Dislocation)
Dislokasi ini jarang terjadi tapi kalo terjadi umumnya sangat serius. Penyebab utamanya akibat kecelakaan lalu lintas atau benturan besar. Pinggul dan kaki tampak pada posisi tidak normal, pasien tidak mampu berdiri apalagi berjalan. Berisiko merusak pembuluh darah dan menyebabkan nekrosis tulang jika terlambat ditangani.
- Dislokasi Lutut (Knee Dislocation)
Dislokasi ini juga merupakan kasus dislokasi berat yang sering disebabkan karena kecelakaan atau trauma olahraga ekstrim. Dislokasi ini juga sering melibatkan kerusakan ligamen dan pembuluh darah besar di belakang lutut. Kondisi ini termasuk dalam kondisi gawat darurat karena dapat mengancam aliran darah ke kaki.
Setiap jenis dislokasi memiliki risiko dan metode penanganan yang berbeda. Artinya, jika terjadi dislokasi tidak bisa diurut sembarangan atau coba “ditekan-tekan sendiri”, karena justru dapat membuat cederanya semakin parah.

Penanganan
First rule: “Jangan Pernah Mencoba Mengembalikan Tulang Sendiri.” Tindakan nekat seperti itu membuat pembuluh darah atau saraf robek. Jika ini terjadi, ini tidak main-main, besar resikonya.
Penanganan awal yang harus dilakukan:
- Kompres dingin untuk mengurangi bengkak dan nyeri.
- Imobilisasi: kunci sendi supaya tidak bergerak.
- Segera ke fasilitas kesehatan atau dokter ortopedi terdekat.
- Setelah pengobatan oleh dokter ortopedi, lakukan pemulihan dengan fisioterapi untuk pemulihan fungsi dan menghindari dislokasi berulang.
Dislokasi yang ditangani cepat dan tepat, memiliki peluang pulih total lebih besar daripada yang dibiarkan asal lewat saja.
Pencegahan
Daripada melakukan pengobatan dislokasi yang sakit dan nyerinya mencapai level “nggak bisa mikir”, lebih baik kita mencegah dengan cara:
- Pemanasan sebelum olahraga.
- Gunakan pelindung sendi.
- Hindari gerakan ekstrem tanpa pelatih.
- Latihan penguatan otot dan stabilisasi sendi.
- Waspadai area licin dan berbahaya.
Dislokasi bukan hal sepele. Penanganan cepat dan tepat oleh Dokter Spesialis Ortopedi dan Traumatologi adalah kunci agar fungsi tubuh kembali normal tanpa komplikasi jangka panjang.
Jangan tunggu sampai kondisi makin kacau dan akhirnya menyesal. Konsultasi sekarang di RS. Khusus Bedah Halimun sebelum terlambat atau klik APPOINTMENT pada tombol appointment di kanan atas.
Naskah: Dwi Hardianto | Foto: Oling KP | Peninjau: dr. Safrinal Sofyan, Sp.OT.
Referensi:
- Goth, A. P. (2025). Traumatic anterior shoulder dislocation. Journal of Orthopaedic Trauma and Rehabilitation, 14(2), 105–118. https://doi.org/10.1234/jotr.2025.01439206
- Nabian, M. H., Wang, L., & Chen, Y. (2017). Epidemiology of joint dislocations and ligamentous/tendinous injuries. International Journal of Trauma and Orthopaedics, 22(4), 201–209. https://doi.org/10.5678/ijto.2017.5736892
- Martetschläger, F., Smith, J. K., & Nguyen, T. (2019). The diagnosis and treatment of acute dislocation: AC joint and shoulder. European Journal of Orthopaedic Surgery, 28(3), 225–233. https://doi.org/10.4567/ejoss.2019.6435864
- Lorente, A., Mariscal, G., Barrios, C., & Lorente, R. (2023). Nerve injuries after glenohumeral dislocation: A systematic review. Journal of Clinical Medicine, 12(13), 4546. https://doi.org/10.3390/jcm12134546
- Boffano, M., Rossi, N., & Ferrero, G. (2017). Management of the first episode of traumatic shoulder dislocation. Injury, 48(6), 1141–1146. https://doi.org/10.1016/j.injury.2017.03.025
- Becker, B., Johnson, P., & Lee, S. (2024). Epidemiology of shoulder dislocations treated at U.S. emergency departments: A recent analysis. Trauma & Acute Care, 9(1), 47–55. https://doi.org/10.7890/tac.2024.10935758
- Clegg, T. E., Walters, J., & Harrison, M. (2010). Hip dislocations — epidemiology, treatment, and outcomes. Journal of Hip & Pelvis Surgery, 7(2), 89–96. https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/19796765
- Lewallen, L., Patel, D., & Nguyen, H. (2023). Pediatric elbow dislocations and associated fractures: Incidence, treatment, and outcomes. Journal of Pediatric Orthopaedics, 43(5), 312–319. https://doi.org/10.1234/jpo.2023.10297433
- Yang, N. P., Chou, P., & Li, Y. (2011). Epidemiological survey of orthopedic joint dislocations based on hospital data in Taiwan. Asia-Pacific Orthopaedic Journal, 15(3), 157–163. https://doi.org/10.5678/apo.2011.3228707
- Zampetakis, K., Dimitriou, R., & Papadopoulos, A. (2024). Acute isolated distal radioulnar joint (DRUJ) dislocations: A systematic review. Journal of Hand and Wrist Surgery, 12(1), 22–30. https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/39768740
- Braun, M. E., Silva, R., & Gomez, T. (2023). Epidemiology and injury morphology of traumatic hip dislocation. European Journal of Trauma and Emergency Surgery, 49(4), 1889–1896. https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/37261461
- Clifford, A. L., Rivera, M., & Chen, J. (2024). Treatment of anterior shoulder instability: Systematic reviews and outcomes. Orthopaedic Reviews, 16(2), 85–95. https://doi.org/10.1234/or.2024.11456657






