RS. KHUSUS BEDAH HALIMUN MEMPERIGATI HARI KARTINI 2021
Masih dalam suasana pandemi Covid-19, Rumah Sakit Khusus Bedah Halimun memperingati Hari Kartini, Rabu (21 April 2021). Karenanya, peringatan ini dilaksanakan dengan menerapkan protokol kesehatan secara ketat.
Bentuk peringatan yang dilaksanakan RSKB Halimun berupa mengenakan pakaian kebaya untuk karyawan non medis wanita dan pakaian khas Betawi untuk karyawan non medis laki-laki. Khususnya, dilaksanakan oleh unit karyawan yang langsung melayani pasien.
Diharapkan, dengan peringatan ini, keluarga besar RSKB Halimun, pasien, keluarga pasien dan masyarakat di sekitarnya mampu meneladani dan mewujudkan cita-cita luhur Kartini memperjuangkan emansipasi perempuan dan menentang kolonial.

Sekilas Kartini
Hari Kartini selalu diperingati pada 21 April. Hari nasional itu didedikasikan sebagai hari Pahlawan Nasional, Raden Ajeng Kartini Djojo Adhiningrat (Kartini). Tanggal 21 April dipilih sebagai hari nasional, karena tanggal tersebut merupakan hari lahir Kartini, 21 April 1879.
Kartini adalah putri Bupati Jepara, Raden mas Adipati Ario Sosroningrat dan istrinya ibu M.A.Ngasirah. Pada usia 24 tahun ia menikah dengan Bupati Rembang, Raden Adipati Djojodiningrat. Kartini tumbuh dan menjalani pendidikan modern. Dari sinilah, Kartini memiliki pandangan bahwa pendidikan bagi perempuan adalah kunci penting bagi emansipasi manusia.
Pada usia remaja, ia melahirkan karya yang terbit di Holandsche Leile berjudul "Upacara Perkawinan pada Suku Koja." Kartini juga sering membagikan pemikirannya pada teman-teman Belanda dengan menulis sejumlah surat berbahasa Belanda. Salah satu pemikiran yang paling berpengaruh adalah buku Door Duisternis tot Licht (Habis Gelap Terbitlah Terang).

Buku ini merupakan kumpulan surat-surat Kartini yang ia kirimkan pada teman-teman korespondensi dari Belanda, salah satunya seorang sahabat pena bernama Rosa Abendanon. Surat-surat tersebut berisi pemikiran Kartini mengenai tradisi feodal, pernikahan paksa dan poligami, hingga gagasan mengenai pentingnya pendidikan bagi anak perempuan. Kartini juga mengeluhkan budaya Jawa kala itu yang ia pandang menghambat kemajuan perempuan.
Sayangnya, pemikirannya tersebut belum sempat ia wujudkan. Ia meninggal pada usia 25 tahun setelah melahirkan bayi laki-laki pada 17 September 1904. Tapi, pemikiran Kartini menjadi inspirasi pergerakan Indonesia. Tulisannya itu menjadi dasar gerakan antikolonial dan emansipasi perempuan.
Atas hal tersebut ia ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional sejak 1964, berdasarkan Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 108 Tahun 1964.






