MKEK IDI KELUARKAN 13 ETIKA BERMEDIA SOSIAL BAGI DOKTER

Dwi H 03 May 2021

Majelis Kehormatan Etik Kedokteran (MKEK) Ikatan Dokter Indonesia (IDI)  mengeluarkan Fatwa Etik Bermedia Sosial Bagi Dokter. Fatwa ini dikeluarkan dalam Surat Keputusan Nomor 029/PB/K/MKEK/04/2021 tertanggal 30 April 2021.

Ketua MKEK IDI dr. Pukovisa Prawiroharjo, Sp.S(K) mengatakan, ada empat pertimbangan terbitnya fatwa ini. Di antaranya, internet dan media sosial sebagai bagian dari keniscayaan perkembangan teknologi telah digunakan dan dimanfaatkan oleh hampir seluruh lapisan masyarakat termasuk hampir seluruh dokter di Indonesia.

"Menimbang bahwa belum ada paparan detail dan jelas pada Sumpah Dokter serta Kode Etik Kedokteran Indonesia terkait bagaimana etika aktivitas dokter menggunakan media sosial," kata dr. Pukovisa sebagaimana tertulis dalam SK tersebut yang dikirim IDI ke RSKB Halimun, Jumat (1 April 2021).

Secara garis besar, SK ini berisi 13 poin Fatwa Etik Bermedia Sosial bagi Dokter, yaitu:

1. Sisi Positif Negatif Media Sosial

Dokter harus sepenuhnya menyadari sisi positif dan negatif aktivitas media sosial dalam keseluruhan upaya kesehatan dan harus menaati peraturan perundangan yang berlaku.

2. Mengedepankan Integritas

Dokter selalu mengedepankan nilai integritas, profesionalisme, kesejawatan, kesantunan, dan etika profesi pada aktivitasnya di media sosial.

 

 

3. Upaya Promotif dan Preventif

Penggunaan media sosial sebagai upaya kesehatan promotif dan preventif bernilai etika tinggi dan perlu diapresiasi selama sesuai kebenaran ilmiah, etika umum, etika profesi, dan peraturan perundangan yang berlaku.

4. Memberantas Hoaks

Penggunaan media sosial untuk memberantas hoaks atau informasi keliru terkait kesehatan atau kedokteran merupakan tindakan mulia selama sesuai kebenaran ilmiah, etika umum, etika profesi, dan peraturan perundangan yang berlaku. Dalam upaya tersebut, dokter harus menyadari potensi berdebat dengan masyarakat.

Dalam berdebat di media sosial, dokter perlu mengendalikan diri, tidak membalas dengan keburukan, dan menjaga marwah luhur profesi kedokteran. Jika terdapat pernyataan yang merendahkan sosok dokter, tenaga kesehatan, maupun profesi/organisasi profesi dokter/kesehatan, dokter harus melaporkan hal tersebut ke otoritas media sosial melalui fitur yang disediakan dan langkah lainnya sesuai peraturan perundangan yang berlaku.

5. Tak Boleh Promosi Berlebihan

Dokter harus menjaga diri dari promosi diri berlebihan dan praktiknya serta mengiklankan suatu produk dan jasa. Hal ini sesuai SK MKEK IDI Pusat Nomor 022/PB/K.MKEK/07/2020 tentang Fatwa Etika Dokter Beriklan dan Berjualan Multi Level Marketing yang diterbitkan MKEK Pusat IDI tanggal 28 Juli 2020.

6. Pastikan Keamanan Aplikasi

Penggunaan media sosial untuk tujuan konsultasi suatu kasus kedokteran dengan dokter lainnya, dokter harus menggunakan jenis dan fitur media sosial khusus yang terenkripsi end-to-end dan tingkat keamanan baik, dan memakai jalur pribadi kepada dokter yang dikonsultasikan tersebut atau pada grup khusus yang hanya berisikan dokter.

7. Jika Memuat Gambar Wajib Ikuti Peraturan

Penggunaan media sosial untuk memuat gambar, dokter wajib mengikuti peraturan perundangan yang berlaku dan etika profesi. Gambar yang dimuat tidak boleh membuka secara langsung maupun tidak langsung identitas pasien, rahasia kedokteran, privasi pasien/keluarganya, privasi sesama dokter dan tenaga kesehatan, dan peraturan internal RS/klinik.

Dalam menampilkan kondisi klinis pasien atau hasil pemeriksaan penunjang pasien untuk tujuan pendidikan hanya boleh dilakukan atas persetujuan pasien. Identitas pasien seperti wajah dan nama juga harus dikaburkan. Hal ini dikecualikan pada penggunaan media sosial dengan maksud konsultasi suatu kasus kedokteran sebagaimana yang diatur dalam poin 6.

8. Pisahkan Akun Edukasi dengan Pertemanan

Penggunaan media sosial untuk tujuan edukasi kesehatan masyarakat sebaiknya dibuat terpisah dengan akun pertemanan agar fokus pada tujuan. Jika akun yang sama juga digunakan untuk pertemanan, dokter harus memahami dan mengelola ekspektasi masyarakat terhadap profesi kedokteran.

 

 

9. Lihat Sasaran Edukasi

Penggunaan media sosial dengan tujuan edukasi ilmu kedokteran dan kesehatan yang terbatas pada dokter dan atau tenaga Kesehatan, hendaknya menggunakan akun terpisah dan memilah sasaran informasi khusus dokter/tenaga kesehatan.

10. Bebas Berekspresi Sebagai Hak Privat Asal Sesuai Aturan

Penggunaan media sosial dengan tujuan pertemanan, dokter dapat bebas berekspresi sebagai hak privat sesuai ketentuan etika umum dan peraturan perundangan yang berlaku dengan memilih platform media sosial yang diatur khusus untuk pertemanan dan tidak untuk dilihat publik.

11. Selektif Memasukkan Pasien ke Daftar Pertemanan

Dokter perlu selektif memasukkan pasiennya ke daftar teman pada akun pertemanan karena dapat mempengaruhi hubungan dokter-pasien.

12. Dokter Bisa Membalas Pujian Pelayanan Medis 

Dokter dapat membalas dengan baik dan wajar pujian pasien/masyarakat atas pelayanan medisnya sebagai balasan di akun pasien/masyarakat tersebut. Namun sebaiknya dokter menghindari untuk mendesain pujian pasien/masyarakat atas dirinya yang dikirim ke publik menggunakan akun media sosial dokter sebagai tindakan memuji diri secara berlebihan.

13. Menegur Rekan Sejawat Melalui Jalur Pribadi

Bila memandang aktivitas media sosial sejawatnya keliru, dokter harus mengingatkannya melalui jalur pribadi. Apabila yang bersangkutan tidak bersedia diingatkan dan memperbaiki perilaku aktivitasnya di media sosial, dokter dapat melaporkan kepada MKEK.

Ketua MKEK IDI Pukovisa Prawiroharjo menegaskan, Fatwa Etik Kedokteran ini mengikat seluruh dokter di Indonesia. Ia meminta MKEK di semua tingkatan untuk melakukan sosialisasi. MKEK juga berwenang melakukan klarifikasi terhadap suatu informasi dugaan pelanggaran etik, pembinaan, dan atau proses kemahkamahan pada dokter Indonesia yang tidak sesuai dengan isi fatwa.

"MKEK Pusat IDI membuka diri terhadap ide dan masukan terkait fatwa yang diterbitkan untuk evaluasi dan penyempurnaan di masa mendatang," pungkas  dr. Pukovisa seperti ditegaskan dalam penutup SK ini.

Naskah: Dwi H
Foto: Olink KP 

 

Berita Lainnya

Selamat Hari Raya Idulfitri 1443 H Mohon Maaf Lahir & Batin

30 April 2022

BUKA PUASA BERSAMA & SYUKURAN MILAD KE-5 RS KHUSUS BEDAH HALIMUN

13 April 2022

JADWAL LIBUR IDUL FITRI TAHUN 1443 H/2022 M

08 April 2022

KARYAWAN RS KHUSUS BEDAH HALIMUN BAGIKAN TAKJIL RAMADHAN 1443 H

07 April 2022