Physical Distancing Mencegah Penularan COVID-19

Dwi H 30 March 2020

Dalam upaya menangani pandemi virus Corona (Covid-19) yang semakin meluas, pemerintah menganjurkan masyarakat menerapkan physical distancing  (jaga jarak aman atau pembatasan fisik). Mari kenali apa itu pshysical distancing dan cara melakukannya yang sebelumnya disebut social distancing.

 

Apa Itu  Physical Distancing?

Pphysical distancing merupakan salah satu langkah pencegahaan dan pengendalian infeksi virus Corona (Covid-19) dengan menganjurkan orang sehat melakukan jaga jarak aman dengan orang lain, membatasi kunjungan ke tempat umum, membatasi kontak langsung dengan orang lain dan disiplin melaksanakannya. Kini, istilah physical distancing telah ditetapkan WHO dan pemerintah Indonesia untuk menggantikan istilah social distancing.

 

 

Ketika menerapkan physical distancing, kita dianjurkan melakukan hal-hal berikut:

  • Tidak diperkenankan berjabat tangan.
  • Menjaga jarak minimal 1 meter saat berinteraksi dengan orang lain, apalagi dengan orang yang sedang sakit atau berisiko tinggi menderita COVID-19.
  • Bekerja dari rumah atau work from home (WFH).
  • Belajar di rumah secara online bagi siswa dan mahasiswa.
  • Menunda pertemuan atau acara yang dihadiri orang banyak, seperti konferensi, seminar, rapat, pernikahan, perayaan keagamaan, adat dan hajatan lainnya.
  • Melakukannya rapat, pertemuan, konferensi, seminar, dan sejenisnya secara onlinemenggunakan video atau 
  • Tidak mengunjungi orang yang sedang sakit, cukup menggunakan telepon atau video call jika ingin membesuk.
  • Melakukan ibadah di rumah dan tidak berjamaah (bersama-sama) di tempat ibadah.
  • Mengurangi penggunaan angkutan umum seperti, angkot, bus, busway, commuter line, MRT, LRT, kapal laut, kereta api dan pesawat, kecuali dalam kondisi darurat.

 

Perbedaannya dengan Self-Quarantine dan Self-Isolation

Selain physical distancing, ada istilah lain yang berkaitan dengan upaya pencegahan infeksi COVID-19, yaitu self-quarantine dan self-isolation.

 

 

Self-Quarantine (Karantina Mandiri)

Self-quarantine  (karantina mandiri) ditujukan kepada orang yang berisiko tinggi terinfeksi virus Corona, misalnya pernah kontak dengan penderita COVID-19, tetapi belum menunjukkan gejala. Orang yang menjalani self-quarantine harus mengarantinakan diri sendiri dengan tetap berada di rumah selama 14 hari.

Dalam masa ini, orang yang menjalani self-quarantine diminta tidak menerima tamu, tidak berbagi penggunaan alat makan dan alat-alat pribadi dengan orang lain, menjaga jarak setidaknya 1 meter dengan orang yang tinggal serumah, mengenakan masker saat berinteraksi dengan orang lain, serta selalu menjaga kebersihan diri dan sering mencuci tangan.

Self-Isolation  (Isolasi Mandiri)

Self-isolation (Isolasi Mandiri) diberlakukan pada orang yang sudah terbukti positif menderita COVID-19. Biasanya, self-isolation merupakan upaya alternatif ketika rumah sakit tidak mampu lagi menampung pasien COVID-19. Karenanya, penerapan self-isolation  tidak bisa sembarangan dan harus dengan arahan dokter.

Dalam praktiknya, penderita COVID-19 harus mengisolasi dirinya sendiri di ruangan atau kamar khusus di rumah dan tidak diperkenankan keluar dari ruangan itu agar tidak menularkan virus Corona kepada orang lain.

Siapa pun yang ingin berinteraksi langsung dengan penderita hanya diperkenankan masuk maksimal selama 15 menit, harus mengenakan masker dan alat pelindung diri (APD), serta menjaga jarak sejauh 1 meter.

Barang yang digunakan penderita, mulai dari sikat gigi hingga tempat makan, harus dibedakan dengan barang yang digunakan orang lain yang tinggal satu rumah. Penderita juga wajib selalu mengenakan masker, terutama saat berinteraksi dengan orang lain.

 

Naskah: Dwi Hardianto

Video: Olink KP

 

 

Artikel Lainnya

Mengenal Penyakit Frozen Shoulder

PROSEDUR CUCI TANGAN BEDAH SESUAI PROSEDUR DI RS. KHUSUS BEDAH HALIMUN

Mengenal Varian Omicron & Cara Mengantisipasinya

IDAI: “Anak Usia 6-11 Tahun yang Tak Dapat Divaksin Covid-19”